Baca Juga
Beberapa hari belakangan beredar video di media sosial Presiden Republik Indonesia jokowi dodo marah. Kemarahan tersebut ditujukan kepada menteri-nya. Yang memicu kemarahan Bapak Presiden adalah langkah kerja para menterinya dinilai kurang membaca suasana kritis yang sedang melanda Indonesia dan dunia. Bapak presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kinerja para menterinya dilakukan secara biasa biasa saja dengan ekspresi marah.
Dari sumber yang penulis dapatkan dari media sosial (narasi tv) ternyata ada para ahli dari luar negeri yang menganalisis raut wajah Joko widodo dengan sebuah Artificial Intelinjen (kecedasan buatan). Emotion research LAB yang bekerjasama dengan perusahaan teknologi asal spanyol menganalisis raut wajah Presiden Joko widodo saat pidato apakah Jokowi benar-benar marah atau tidak, bahkan tingkat kemarahan atau emosi seseorang dapat diukur dengan prosentase angka.
Dulu orang melihat orang marah atau senang bahkan sedih bisa mendeteksi melalui raut wajah, bahkan hal itu dilakukan sebuah penelitian oleh Paul Ekmen dalam research nya Menemukan katagori emosi dasar manusia dengan melihat raut wajah untuk menentukan seseorang bahagia, marah, takut, kaget dan jijik. Berdasarkan bantuan ekpresi raut wajah tersebut saat ini dikembangkan Artificial intellegen (AI) atau kecerdasan buatan untuk mendeteksi tingkat emosi seseorang.
Bisnis pendeteksian raut wajah saat ini berkembang pesat di luar negeri saat ini. Akan tetapi dalam pengembangannya terdapat kendala yang terjadi untuk mendeteksi raut muka seseorang, yaitu dengan tersenyum orang belum tentu bahagia, dengan wajah yang cemberut belum tentu marah. Untuk mengatasi hal ini dilakukan dengan cara pembuatan big data dengan menggunakan database yang ditingkatkan, yaitu melalui cara memperbanyak database dalam artiificial intelligence tersebut dengan data ekspresi wajah yang diperoleh dari berbagai etnis di dunia.
Bagaimana AI pendeteksi emosi seseorang tersebut bekerja?
Ai tersebut bekerja dengan menganalisis dari deteksi wajah dari frame by frame dalam satu detik terdapat 25 frame sehingga dalam waktu satu menit terdapat 1500 frame saat mendeteksi mimik wajah seseorang (sumber narasi tv).
Dikemudian hari (atau bahkan sekarang ini sudah dilakukan) ada penciptaan AI pendeteksi kebohongan seseorang serta kejujuran seseorang. Dengan bantuan pedeteksi retina mata bahkan mungkin isi dalam hati seseorang suatu saat bisa diketahui dengan bantuan AI apakah seseorang tersebut berbohong atau tidak.
Saat ini saja google sudah bisa menebak apa yang akan kita cari maka akan muncul pilihan kata ditawarkan oleh google. Terkadang ketika kita mengetikkan suatu kata di kolom pencarian google disadari atau tidak, terkadang kata yang kita cari sudah ditawarkan oleh google dan disitu kita tinggal memilihnya dan bahkan kadang hasil yang ditawarkan kata yang kita cari sama persis dengan keinginan kita. Begitu hebatnya kemampuan manusia dalam mengembangkan teknologi terutama dalam pengembangan berbasis AI.
Tantangan kedepan manusia mau tidak mau pasti akan hidup berdampingan dengan sebuah sistem komputerisasi dan robotik serta kecerdasan buatan yang ditandai dengan revolusi industri 4.0. serta masa society 5.0 dimana era semua teknologi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Internet merupakan sebuah kebutuhan dalam hidup, sepertihalnya dalam teori ekonomi kebutuhan manusia yang dikelompokkan menjadi kebutuhan primer, skunder dan tertier. Dalam kehidupan manusia internet tidak lagi merupakan kebutuhan tertier bahkan sudah masuk dalam kategori kebutuhan primer.
Apalagi dimasa pandemi saat ini kebutuhan internet meningkat tajam. Konsumsi internet dimasa pademi digunakan untuk belajar dan bekerja yang dilakukan dirumah. Kedepan internet menjadi kebutuhan seperti halnya langganan listrik dan langganan air.
Ungaran, 11 Agustus 2020
Oleh : Ahmad Saeroji
Post a Comment