Table Manner "Tahu Tempe"
Saat saya menjadi pemateri disalah satu sekolah di Kota Pemalang, secara tidak sengaja bertemu teman lama waktu kuliah dulu. Ternyata Sekolah dimana saya mengisi pelatihan ada teman saya yang mengajar disitu. Tegur sapa dan saling mengejek sebagai bentuk keakraban kami lakukan.
Tibalah saya mengisi materi untuk pelatihan. Setelah beberapa jam saya mengisi materi tiba saatnya saya menuju ke ruang transit. Di ruang transit itulah saya kembali bersua dengan teman kuliah saya dulu.
Kami bercerita panjang lebar tentang masa kuliah dulu, mulai dari mengenang foto-foto jaman kuliah dulu yang masih tersimpan di handphonenya, hingga akhirnya ada salah satu topik yang membuat kita kita tertawa dan saling menyemangati satu sama lain, yaitu kisa menjadi guru pemula dan segala keterbatasan yang ada.
Cerita berawal dari lulus kuliah dan pertama kali mendapat pekerjaan menjadi seorang penjaga perpus di SD yang digaji 150 ribu perbulan selama satu tahun, yang pada akhirnya dia memilih untuk keluar dan menjadi seorang guru di sebuah SMK di Kotanya yang sesuai dengan ijasahnya. Dimana sekolah tersebut bisa dikatakan sangat jauh dari sejahtera. Kalo bisa dikatakan siswa yang dibutuhkan sekolah, bukan siswa yang butuh sekolah.
Cerita dilanjutkan dengan pengalaman pernah ngajar selama tujuh bulan belum digaji. Serta untuk mengajukan program praktik pembelajaran di luar kelas yaitu table manner tidak di setujui oleh pimpinan sekolah tersebut. "Jangankan untuk membiayai kegiatan table manner untuk gaji guru aja ngos-ngosan" celetup sebuah kalimat ke saya.
Hingga pada akhirnya teman saya didesak oleh siswanya bahwa sekolah lain dengan jurusan yang sama ada kegiatan table manner. Dengan keterbatasan anggaran dan biaya akhir nya dilaksanakan table manner dikelas dengan catatan membawa perlengkapan sendok dan garpu sendiri.
Tiba saat kegiatan table manner dimulai. Tahu tempe yang sudah dibeli oleh teman saya sebagai gurunya tersebut sudah disiapkan di piring serta siap untuk dibagi kesiswa. Peralatan table manner sudah lengkap sesuai dengan yang ditugaskan oleh gurunya, yaitu setiap siswa membawa sendiri alat-alatnya. Ada garpu, pisau dan alat lainnya guna keperluan table manner. Karena sebuah kondisi siswa tersebut sehingga ada siswa yang membawa pisau dapur yang jauh dari kata baik. Teman saya yang sebagai gurunyapun menahan tawa.
Kegiatan table manner dimulai. teman saya membagikan sepotong tempe dan tahu sebagai penganti daging. selanjutnya ditayangkan sebuah video tabble manner yang sebenarnya dan sesuai dengan aturan table manner. Sambil menyaksikan video yang ditampilkan oleh gurunya, siswa mempraktikkan cara memotong daging yang digantikan dengan media tempe dan tahu. Teman saya menyampaikan pada siswa yang terpenting bukan dagingnya ya tapi cara memotong dan memegang pisau dan garpunya.
Kegiatan pembelajaran praktik table manner berjalan lancar. Gelak tawa dan riuh dikelas menjadi sebuah pengalaman mengajar disebuah keterbatasan untuk mengajarkan sebuah pengalaman.
Cerita kami berdua ditutup dengan kesan-kesan menjadi seorang pendidik muda. Pada akhirnya kita saling menertawakan pengalaman pertama ngajar dan menjadi seorang guru dengan segala keterbatasan dan kesejahteraannya.
Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 16:00 dan saya harus pamitan untuk menuju stasiun karena saya harus bergegas pulang sesuai dengan jadwal tiket yang sudah dibelikan oleh panitia.
Itu sedikit cerita bertemu dengan kawan lama dengan cerita table manner "tahu tempe"
Semoga kita dipertemukan lagi kawan semangat mengabdi untuk negeri.
Pemalang, 9 Desember 2019
Ditulis ulang untuk mengenang moment


Selalu ada solusi disetiap masalah, begitu kan Pak
BalasHapusT
Iya bu keterbatasan bukan penghalang
HapusTak ada rotan akarpun jadi. Yg penting kbm tetap berlangsung
BalasHapusIya bu butuh kreativitas dan pengorbanan
HapusLuar biasa jadi reuni tak disengajay Pak Indra?
BalasHapusPak Saeroji Bu .... iya Bu Reuni dadakan
HapusSiip...itulah guru yg kreatif apapun bisa, demi mencerdaskan anak bangsa. Terimakasih telah berbagi pengalaman.
BalasHapusIya Bu Ai semoga bermanfaat
HapusTiada rotan, akarpun jadi....
BalasHapusitu yang diperlukan pada setiap guru
Menjadi pemecah solusi dengan kreatifitas!!
Terimakasih tulisannya, menginspirasi!!
Makasih Pak Indra mohon masukkan
Hapus