Cara Memiliki Mental Seorang Penulis Hebat
![]() |
| https://www.idntimes.com/ |
Malam ini (22/01/21) belajar menulis mengangkat tema di luar teknis menulis, yaitu "Mental Seorang Penulis". Walau di luar teknis menulis membangun mental untuk menjadi seorang penulis itu juga perlu, terutama adalah penulis pemula.
Narasumber kali ini dari guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Wanita kelahiran Subang 23 Mei 1990 ini memiliki Nama Ditta Widya Utami, S.Pd. Walaupun masih muda memiliki segudang karya dalam hal tulis menulis.
Penyampain materi diawali dengan menyanyi. Dengan iringan gitar yang dipetiknya yang diunggah melalui chanel yutubnya menjadikan suasana pelatihan menulis malam ini semakin semarak dan meriah. Karena dalam benak beliau memiliki jargon, bersenang-senang hari ini (harus bahagia dan lakukan yang terbaik). Dari jargon tersebut memiliki makna, bahwa nikmati dan manfaatkan hari ini sebaik mungkin, untuk dapat menikmati dikemudian hari.
Setelah selesai menyapa dan membuat apersepsi dengan bernyanyi mulailah sebuah prolog yang disampaikan, bahwa untuk menjadi seorang penulis handal, selain mengetahui teknik menulis, juga diperlukan untuk memiliki mental yang kuat dan sehat.
Jika kita tengok kisah beberapa penulis tersohor baik di dalam maupun di luar negeri, ternyata banyak yang harus jatuh bangun ketika memulai karirnya sebagai seorang penulis. Namun, karena mereka (salah satu faktornya) memiliki mental yang kuat, mereka bisa bangkit kembali dan akhirnya meraih kesuksesan. Bahkan karyanya menjadi karya yang best seller.
Jadi, mental yang dimaksud di sini lebih kepada sebuah cara berpikir untuk dapat belajar dan merespons suatu hal. Sebagaimana yang dilakukan para penulis hebat dalam menghadapi setiap tantangan.
Mental apa saja yang harus dimiliki seorang penulis? berikut beberapa mental yang harus dimiliki seorang penulis terutama penulis pemula.
1. Siap Konsisten
Semua orang bisa jadi penulis, akan tetapi untuk menjadi penulis hebat diperlukan sebuah konsisten. Dengan memiliki sikap yang konsisten saat menulis kita menemui berbagai tantangan, Kita bisa melewatinya.
Menulis merupakan sebuah kata kerja, artinya kita harus melakukannya, tanpa melakukannya kita tidak akan menjadi konsisten. Gunakan berbagai platform untuk media menulis, mulai dari blog, media sosial dan media lainnya untuk dapat mengasah menulis.
Belajar dari Hoek Gie, dari buku catatan kemudian lahir sebuah buku. atau RA Kartini dari surat menyurat yang dikumpulkan akhirnya juga bisa menjadi sebuah buku. Itu semua adalah berkat konsisten.
Untuk memaknai konsisten dalam menulis kita bisa mengambil kutipan dari Om Jay "Teruslah menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Dengan kutipan tersebut kita bisa memunculkan motivasi untuk tetap selalu menulis setiap hari.
Salah satu tips agar bisa memiliki mental untuk konsisten adalah dengan mengenali diri sendiri. Sehingga tantangan apa pun yang menghadang, kita akan tau apa yang harus kita lakukan serta mencari solusi terbaiknya.
2. Siap Dikritik
Ketika kita memutuskan untuk memublikasikan hasil karya tulisan kita di blog/buku/media sosial/media massa, dan lain sebagainya, maka penting kita sadari bahwa tulisan kita telah menjadi "milik publik". Sehingga kritikan itu menjadi hal yang biasa.
Untuk mengenali jenis kritik itu ada dua yaitu kritik positi dan negatif. Kritik Positif sifatnya membangun. Sedangkan untuk kritik Negatif sifatnya adalah bisa jadi menjatuhkan agar bisa menjadi down. Namun sekali lagi kita harus mampu mengambil hikmah dari kritikan tersebut untuk menaikkan tingkat kualitas tulisan kita.
Kritik Negatif salah satu faktornya adalah bisa jadi tidak suka dengan kita. dan bersifat bodo amat. dan tetap fokus dan tetap menulis merupakan sebuah mental penulis yang luar biasa.
Dengan demikian, kita harus menyiapkan mental untuk menerima masukan dari publik. Tak hanya bersiap untuk komentar baik, kita pun harus bersiap bila ternyata ada yang mengkritik dengan cukup tajam atas tulisan kita.
Dengan adanya masukan/kritik dari berbagai pihak, kita bisa mengetahui kekurangan dalam tulisan kita. Bukan hanya dari kacamata sendiri, tapi juga dari kacamata pembaca.
3. Siap Belajar
Lakukan riset dan tambah bacaan. Belajar untuk dapat peka dan membaca terhadap lingkungan sekitar. Membaca tidak hanya diartikan membaca buku, akan tetapi melakukan riset dan memperhatikan lingkungan sekitar, yang nantinya akan kita jadikan sebuah tulisan, itu juga merupakan sebuah aktivitas belajar.
Jika sudah senang dan konsisten menulis, sudah bisa menerima saran maupun kritik, maka sungguh kita memiliki mental untuk belajar bertumbuh.
Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk tetap mampu belajar dan menuangkannya kedalam bentuk tulisan antaran lain :
a. Melakukan riset
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tulisan adalah dengan melakukan riset. Bisa dengan berkunjung ke perpustakaan, berkunjung ke toko buku untuk mengamati buku-buku best seller, melacak apa yang sedang menjadi trend di sosial media maupun dengan google traffic, dan alat lain yang mendukung kegiatan mini riset kita, yang nantinya menjadi bahan tulisan kita.
b. Tambah Bacaan
Saat ini, dimana literasi begitu digaungkan, maka kita harus menyiapkan mental untuk siap menjadi orang yang literat. Salah satunya dengan meningkatkan daya baca. Baik membaca dalam arti sempit yaitu membaca buku, maupun membaca dalam arti luas yaitu membaca kejadian dan peristiwa disekitar kita.
4. Siap ditolak
Mental berikutnya yang perlu kita sadari adalah siap ditolak oleh media maupun penerbit.
Saat naskah kita ditolak, coba lagi dan lagi. Atau cari alternatif lain. Misal dengan menerbitkan sendiri atau dipublish di berbagai media sosial.
Belajar dai penulisa terkenal dan luar biasa yaitu JK Rowling, dimana pernah ditolak belasan penerbit. Dewi "Dee" Lestari sang penulis Supernova pun pernah merasakan ditolak penerbit. Bahkan sekelas novelis horor Stephen King pun pernah ditolak.
Bayangkan, jika mereka berhenti berjuang saat ditolak penerbit satu dua kali, mungkin saat ini kita tidak akan mengenal karya karya hebat mereka. Masih banyak lagi kisah-kisah para penulis terkenal dan hingga akhirnya karya buku yang ditolah itu menjadi best seller.
5. Siap Menjadi Unik
Just be yourself, jadilah dirimu sendiri, dan berikan warna yang beda dari orang lain. Untuk menjadi unik dapat mempelajari orang sukses, buat lain daripada yang lain sehingga tulisan kita memiliki karakter tersendiri bagi pembaca.
Maksudnya dalam menulis tidak perlu terlalu ikut-ikutan seperti orang kebanyakan. Tulis saja apa yang paling kita sukai. Yang paling sesuai dengan diri kita.
Di pelatihan menulis dalam grup ini juga banyak contohnya misalkan Omjay yang selalu unik dengan tulisan setiap harinya. Mr. Bams unik dengan kalimat-kalimat positifnya. Dan Bu Kanjeng yang unik dengan gaya bahasanya yang begitu hidup.
Bisa mempelajari blog atau buku Raditya Dika, isinya pasti humor. Jika membaca buku-buku Justin Gaarder (penulis Dunia Sophie), jangan heran jika terselip unsur filsafat. Karena basicnya beliau memang pernah jadi guru filsafat sebelum menjadi penulis.
Nah, apa yang unik dalam diri kita? Mari kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Sehingga kita memiliki karakter tersendiri.
Jadilah penulis jujur yang apa adanya dan ada apanya. Tidak dibuat-buat/dipaksakan (apa adanya) namun tetap berbobot (ada apanya). Selain itu juga bisa kita tingkatkan kemampuan menulisa kita, dengan cara terus berlatih menulis dan membaca.



Mantaaap Pak Saeroji, gercep bangwt nulis resumenya, informatif lagi...
BalasHapusHhehehe mumpung pas di depan laptop
HapusKeren banget
BalasHapusCepat jadi resumenya
Sukses terus Pak...
Cihuyyy
Terima kasih pak Mumpung ngadep laptop langsung ditulis
HapusPak dosen memang keren. Mantul "mantap betul" kalau kata anak saya. Petuah untuk menjadi unik, semoga bisa saya terapkan dengan konsisten. Semoga berkah pak.
BalasHapusAamiin semoga bermanfaat
Hapuswowww sudah jadi aja nih ..adikku. resume yg lengkap dan informatif.
BalasHapusTerima kasih kakak semoga bermanfaat
HapusTulisan yang menarik
BalasHapusTerima kasih
Hapus